
Gerakan Islam Berkemajuan
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah anugerah besar dari Allah SWT. Nikmat kemerdekaan tidak boleh kita sia-siakan hanya dengan pesta atau seremonial, tetapi harus diisi dengan amal shalih, dakwah, dan pengabdian kepada umat.
PRM Tritih Kulon memandang kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan dakwah di tengah masyarakat. Sebagaimana para pejuang bangsa telah berkorban jiwa dan harta demi negeri ini, kita pun memiliki kewajiban untuk terus berjuang—bukan lagi di medan perang, tetapi di medan amal dan dakwah.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan gotong royong membangun kebaikan. Dakwah PRM Tritih Kulon hadir untuk menjadi bagian dari solusi, melalui kajian rutin, pembinaan generasi muda, serta pemberdayaan jamaah.
Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial. Inilah yang sejalan dengan spirit dakwah Muhammadiyah yang berorientasi pada Islam berkemajuan.
KH. AR Fachruddin juga pernah mengingatkan:
“Kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu memerdekakan diri dari hawa nafsu.”
Maka, PRM Tritih Kulon mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan 17 Agustus sebagai momentum introspeksi: sudahkah kita merdeka dari sifat malas, merdeka dari kebodohan, dan merdeka dari kemiskinan spiritual?
Pahlawan nasional Jenderal Sudirman menegaskan,
“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”
Semangat jihad beliau tidak hanya di medan perang, tetapi juga dalam menanamkan nilai keikhlasan dan keteguhan iman. Prinsip ini sejalan dengan perjuangan dakwah Muhammadiyah yang tak boleh berhenti di tengah jalan.