Mengapa Kajian Rutin Seperti TAMASA Penting bagi Warga Muhammadiyah?

Dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, pembinaan spiritual dan ideologis sangat dibutuhkan. Salah satu bentuk pembinaan itu adalah kajian rutin, seperti TAMASA (Ta’lim Malam Selasa) yang diselenggarakan oleh Ranting Tritih Kulon. Kajian ini bukan hanya pengajian biasa, tapi menjadi ruang strategis untuk memperkuat keislaman, kemuhammadiyahan, dan komitmen perjuangan umat di wilayah Tritih Kulon.
1. Menjaga Ghirah Keislaman dan Kemuhammadiyahan
Kajian rutin menjadi sarana penyegaran spiritual dan ideologis. Dalam buku “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah” dijelaskan bahwa setiap warga Muhammadiyah berkewajiban untuk meningkatkan pengetahuan agama secara terus menerus melalui pengajian, majelis taklim, dan kegiatan keilmuan lainnya (PHIWM Bab II: Kehidupan Beragama, Pasal 2).
“Jamaah Muhammadiyah itu tidak cukup hanya aktif secara organisasi, tapi harus menyegarkan iman dan ilmu dengan mengikuti pengajian secara rutin.”
— Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah
(Sumber: Ceramah Milad Muhammadiyah ke-108, 2020)
2. Memperkuat Ukhuwah Jamaah
Kajian TAMASA juga menjadi ajang mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga Muhammadiyah. Bertemu secara rutin akan membangun rasa saling memiliki, saling menasihati, dan mendukung dalam kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah sebagai gerakan jamaah dan dakwah. Bukan hanya memperkuat pemahaman, tapi juga memperkuat ikatan sosial antar anggota.
3. Membentuk Karakter dan Ideologi yang Kokoh
Melalui kajian rutin, warga terus dibina agar memahami paham agama menurut Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Hal ini membentuk karakter dan ideologi Islam yang rasional, kontekstual, dan berkemajuan.
“Paham agama yang tajdid itu harus disebarluaskan secara sistematis. Kajian menjadi tempat terbaik untuk itu.”
— Dr. Syamsul Anwar, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
(Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah, Edisi No. 13/2023)
Dokumen Risalah Islam Berkemajuan menegaskan bahwa pemahaman Islam yang tercerahkan harus dibangun dalam ruang dialog, pendidikan, dan kajian-kajian ilmiah
4. Menjadi Sarana Dakwah dan Regenerasi Kader
TAMASA membuka ruang untuk dakwah lintas generasi. Keterlibatan anak-anak dan remaja akan membentuk karakter sejak dini. Dalam dokumen Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), pendidikan dan pengkaderan adalah inti dari gerakan Muhammadiyah.
Majelis Pendidikan Kader bahkan mendorong setiap cabang dan ranting memiliki kegiatan kajian sebagai bagian dari sistem kaderisasi informal.
5. Menjadi Pilar Perubahan Sosial
Kajian bukan hanya ritual spiritual, tetapi menjadi media transformasi sosial. Dalam Khittah Perjuangan Muhammadiyah 2002, dijelaskan bahwa gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar harus terwujud dalam kegiatan nyata di masyarakat. Kajian seperti TAMASA menjadi titik awal gerakan pencerahan yang menumbuhkan kesadaran sosial.
“Muhammadiyah bukan hanya gerakan amal, tapi juga gerakan pencerahan berbasis ilmu. Dan itu hanya bisa dijaga dengan tradisi kajian.”
— Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sekretaris Umum PP Muhammadiyah
(Sumber: Webinar Dakwah Pencerahan, PWM Jawa Tengah, 2022)
Kajian rutin seperti TAMASA sangat penting bagi warga Muhammadiyah karena:
- Menjadi sumber penyegaran spiritual dan ideologis.
- Menjaga dan memperkuat kekuatan jamaah dan sosial.
- Membentuk karakter Islam Berkemajuan yang tajdid dan tercerahkan.
- Menjadi sarana pengaderan dan dakwah lintas usia.
- Menumbuhkan kesadaran dan aksi sosial yang transformasional.
Dengan memperkuat kajian seperti TAMASA, Muhammadiyah tidak hanya membangun umat yang taat ibadah, tapi juga tercerahkan, cerdas, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Referensi:
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2000). Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Yogyakarta: PP Muhammadiyah.
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2020). Risalah Islam Berkemajuan. Yogyakarta.
- Suara Muhammadiyah. (2023). “Kajian dan Tajdid sebagai Jalan Pencerahan”, Edisi No. 13.
- Khittah Perjuangan Muhammadiyah 2002. Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
- Pidato Milad Muhammadiyah ke-108 oleh Prof. Dr. Haedar Nashir. (2020).
- Webinar PWM Jateng, “Dakwah Pencerahan”, oleh Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. (2022).